MyTimes

MyTimes merupakan weblog independen yang berisikan kolom dan esai tentang segi-segi kehidupan, ditulis oleh Antonius Bakti Tejamulya. MyTimes didedikasikan bagi para penikmat bacaan serius yang ditulis dengan citarasa (mudah-mudahan) memikat.

My Photo
Name:
Location: Jakarta, Indonesia

Antonius Bakti Tejamulya menjual artikel pertamanya ketika berumur 16 tahun dan sejak itu dia terus menulis. Suka membaca, humor, musik, jalan-jalan, sambil sesekali menikmati kopi kesukaannya: sehitam hati iblis, sepanas neraka, dan semurni malaikat.

Monday, November 21, 2005

Tao

ILLUSTRATED BY SIMON NG

IMLEK 2554 tahun 2003 jatuh pada 1 Februari. Dibandingkan tahun baru Masehi (Romawi), pergantian tahun baru Cina sarat simbol-simbol yang dibungkus dengan mitologi tentang rujukan hidup (kita menyederhanakannya sebagai ramalan). Sahibul hikayat, rujukan ini aslinya berbentuk epigram, menggunakan kuas bulu tupai dan tinta di atas kulit bambu tipis, huruf-hurufnya ditulis turun dari atas ke bawah. Kulit-kulit bambu itu lantas diikat dengan benang sutra untuk membuatnya jadi semacam buku (kita menyebutnya primbon).

Orang Cina percaya (karena mitos dibuat untuk dipercaya, bukan untuk dipertanyakan), setiap pergantian tahun membawa sifat dan pesan yang berbeda. Sifat dan pesan tersebut perlu dikenali agar manusia – yang memikul takdirnya – bisa menghindari kekeliruan sama di masa lalu dan mengantisipasi malapetaka di masa depan. Meski hanya dimengerti samar-samar, demi tradisi, anak-anak keturunan orang Cina sekarang tetap loyal memeluk feng shui dan guanxi dalam kehidupan mereka.

Di lain pihak, nasib seringkali menjadi alasan untuk mengatakan ketidakpastian suatu keadaan. Ketika kita mengatakan bahwa seseorang tertimpa nasib buruk, kita seolah meringankan orang tersebut dari tanggung jawabnya atas apa yang terjadi. Sebaliknya, ketika mengatakan bahwa seseorang bernasib baik, kita mengabaikan peran orang tersebut dalam usahanya mencapai prestasi. Bagaimana kita bisa begitu yakin? Apakah ini masalah takdir atau pilihan yang menentukan hasilnya?

Apa pun namanya, itu sekadar ikhtiar manusia berontak dari keterbatasan mengatasi kerumitan hidup dan misteri alam. Dalam konteks tadi, ekonom dan ahli nujum sebetulnya bekerja untuk tujuan yang sama. Yakni, memberi rujukan kepada kita tentang bagaimana sebaiknya bertindak bijaksana. Hanya saja, pisau analisis keduanya berbeda. Yang satu memakai pisau analisis ekonomi dengan dalil statistik, yang lain menggunakan pisau analisis perbintangan (astrologi atau cabang ilmu astronomi yang mempelajari hubungan antara pergerakan bintang dan perilaku alam/manusia) dengan dalil “rencana semesta”. Pemanfaatan rujukan dari ilmuwan dan peramal, sebangun dengan dokter dan penyembuh alternatif. Dewasa ini, keduanya diakui sama-sama berjasa.

Bagi pencari kearifan ala Tao yang berarti Jalan, ketidakpastian dunia – dengan segala manusia yang memburu kebahagiaan – merupakan sumber eksplorasi yang sangat menarik. Betapa mungkin bahwa semakin banyak tahu seseorang, semakin banyak ilmu seseorang, semakin kaya seseorang, semakin berkuasa seseorang, ternyata tidak juga membuat orang itu makin mengerti.

Ada pepatah Cina kuno: macan siap menerkam, naga tersembunyi. Maksudnya, bahwa segala sesuatu tidaklah seperti kelihatannya. Macan merupakan binatang nyata yang memang ada. Naga, binatang dalam mitologi Cina, imajinasi manusia tentang suatu makhluk yang bisa melindungi tapi juga bisa mencelakakan. Oleh sebab itu, jangan lihat macannya; cari naganya. Naga apa yang tersembunyi di balik macan yang siap menerkam? Naga baik atau naga jahat? (tahan terus kebingungan Anda sampai selesai membaca habis).

Pernah nonton film Crouching Tiger, Hidden Dragon? (saya menontonnya empat kali biar ngeh). Barangkali karena juri menontonnya hanya sekali, sehingga karya sutradara berbakat Ang Lee ini harus mengalah dari The Gladiator (Ridley Scott, 2000) sebagai film terbaik versi Academy Award alias Oscar tahun 2001. Beberapa kritikus menyebut juri masih menjaga jarak terhadap film-film Asia, baik karena alasan fiskal maupun rasial.

Crouching Tiger, Hidden Dragon mengadaptasi novel empat jilid karya Wu Du yang terbit pada awal abad ke 20, di penghujung Dinasti Tsing. Semula, saya mengira Crouching tak lebih dari film-film silat Cina yang kita kenal umumnya, di mana ketika kita merangkak ke luar dari gedung bioskop bagaikan pendekar yang baru turun gunung siap mengamalkan ilmu. Ciaaat! Saya mulai sadar film ini lebih serius ketimbang hiburan aksi laga, ketika dialog, adegan seni bela diri dan pemandangan alam yang panoramik, diramu betul-betul estetik. Tapi apa gunanya, ketika kesadaran itu muncul menjelang film berakhir? Di tengah pujian orang-orang bahwa film ini keren abis, diam-diam, saya merayap ke gedung bioskop lagi keesokan harinya. Mulai jelas, meski belum begitu terang. Yang keempat, saya siap mempresentasikan beberapa kalimat kunci.

Isu sentral Crouching bertumpu pada sebuah pedang pusaka bernama Qingming yang berarti Takdir Hijau. Sebagaimana cerita yang dilandasi ajaran Tao, pedang berusia 400 tahun ini sebetulnya simbol dari tujuan hidup manusia. Sedangkan ilmu silat merepresentasikan medium yang ditempuh oleh manusia untuk menjadi bijak.

Dikisahkan, sebelum menikahi Yu Shu Lien (diperani oleh Michelle Yeoh), Li Mu Bai (Chow Yun-Fat) menyerahkan pedang kepada Tuan Te (Lung Sihung). Ini juga mempertegas keinginannya untuk mundur dari dunia persilatan yang penuh kekerasan dan dendam. Simak kata Li tentang pedang itu, ”Ia tetap bersih, karena tak pernah mengotori dirinya dengan darah.” Artinya, sikap hidup pemegang pedang sangat menentukan apakah pedang itu hanya sebatas benda, atau mewakili tujuan yang lebih mulia. Namun, meski sudah diserahkan, pedang ini terus menjadi pusaran perkara yang menyeret Li kembali ke pentas persilatan dan bahkan menemui ajal.

Pedang itu dicuri oleh Jen (Zhang Zi Yi), seorang perempuan muda yang tinggi ilmu silatnya tapi labil. Saat Jen sadar ilmunya melampaui ilmu gurunya, Rubah Mata Hijau (Cheng Pei Pei), dia justru menjadi takut. Kata dia, ”Aku tak melihat batas langit dan bumi. Tak tahu harus ke mana dan ikut siapa.” Ini menyiratkan, bahwa jika seseorang telah sampai pada puncak prestasinya (pencapaian ilmu, kekayaan, kekuasaan yang disimbolkan dengan “macan yang siap menerkam”) – yang diyakini sebagai kebahagiaan – masih akan menemui kegelisahan. Tanpa sadar, “naga tersembunyi” (baca: akhlak) tengah mengintai.

Rubah Mata Hijau digambarkan sebagai perempuan pendekar yang punya prinsip kebijakan berbeda dengan Li. Kata dia kepada Jen, muridnya, ”Mari kita hidup bebas. Siapa saja yang menghalangi, kita bunuh. Bila kau tak memberiku jalan hidup, kau pun harus mati.” Jelas ini mewakili persaingan bebas yang kejam, tidak beradab, sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan sekarang.

Maka kata Jen, ”Meski mengenal huruf, kau tetap takkan mengerti.” Ini sindiran halus, bahwa keangkuhan seringkali merasuki seseorang yang sudah pintar, kaya, dan punya jabatan. Orang cenderung menganggap apa yang dicapainya sebagai reward, bukan amanat.

Huruf dan pedang memiliki aturan main yang sama. Tersirat dari kata Yu Shu Lien, ”Pedang main karena digunakan, aturan main pun mengikuti pemiliknya.” Kemudian, saat menjumpai Jen yang sedang menulis nama Yu dalam huruf Cina, dia berkata,”Huruf YU seperti huruf PEDANG. Aturan main pedang dan menulis saling berkaitan.” Huruf dan pedang – tulisan atau ucapan, ilmu pengetahuan dan teknologi, kekayaan, kekuasaan – sama-sama berbahaya di tangan orang yang salah.

Atas dasar itulah, setelah mengetahui pelakunya, Li bersikeras menjadikan Jen sebagai muridnya. Sebab jika tidak, ”Dia akan menjadi Naga Pembunuh.” Perhatikan wejangan Li kepada Jen di tengah pertarungan duel mereka yang ciamik, di tanah, berlari di tembok, dari atap ke atap, hingga di pucuk pohon bambu.

“Bila terkulai, tak lurus. Jangan gunakan gagang panjang. Tiada halangan. Tidak kacau. Tiada bayangan. Tidak berubah. Pikiran tidak kacau. Korbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Kuajarkan bagaimana jadi manusia. Sempurnakan akhlak silat, baru dapat mencapai ketenangan, dan pantas menyandang Pedang Qingming.”

Kalimat ini bermakna, bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, kekayaan, kekuasaan tidak bisa berdiri sendiri, terpisah dari akhlak dan kebudayaan manusia. Seseorang yang bekerja dalam bidang apa pun (politik, manajemen, bisnis, wiraswasta, dan sebagainya), mengemban misi pencerahan bagi dunianya untuk menjadi berbudaya. Jika tidak, sepintar apa pun ilmu, sekaya apa pun, sebesar apa pun kekuasaan seseorang, itu tak ada artinya. Bukan cuma kehilangan makna, tapi juga membahayakan harkat manusia sendiri.

Bagi Li, ilmu silat atau pedang pusaka lantas tidak menjadi tujuan, melainkan sekadar sarana mencapai tujuan, yang tak dibutuhkan lagi ketika tujuan sudah tercapai. Tutur Li kepada Yu, ”Saat tangan digenggam, kau tak punya apa pun. Saat lepaskan kepalan, kau memiliki segalanya. Duduk begini, aku malah merasakan ketenangan.”

Demikianlah, seluruh tokoh utama dengan jalannya masing-masing memburu kebahagiaan, namun tak seorang pun mendapatkannya (sebuah akhir cerita yang tidak disukai penggemar happy ending). Li yang berniat meminang Yu, baru bisa menyatakan cintanya sebelum dia mati. Lo (Chang Chen) yang berkelana menyusuri Gurun Gobi untuk mencari kekasihnya, ternyata hanya untuk menyaksikan Jen bunuh diri dengan terjun dari jembatan Kuil Gunung Wudang, ke sebuah tempat dalam impian kebahagiaan abadi. Tinggallah Yu dan Lo, sendiri-sendiri dalam lamunan yang panjang.

Jakarta, 31 Januari 2003